www.flickr.com

Friday, January 10, 2014

Hedayat

Tiap manusia ada turun-naiknya --emosi, intelektual, jasmani, bahkan segalanya.

Faktanya, kita memang hidup dalam turun-naik antara pesimisme dengan optimisme. Sebab itu, pada satu tahap, kita sampai fikir mampu mengubah dunia sekalipun. Tapi, dalam satu tahap yang berseberangan pula, kita boleh jadi ingin meninggalkan dunia ini.

Dan, inilah yang terjadi pada Sadeq Hedayat, yang hidupnya terhenti pada titik-mutlaknya pesimisme.

Saya mengenali Hedayat lewat catatan-catatan sekunder. Saya tidak pernah membaca The Blind Owl, yang dikatakan sebagai magnum opusnya. Tapi, sosok ini menarik perhatian saya tentang bagaimana ia selalu dianggap sebagai jelmaan Kafka dalam kesusasteraan moden Iran. Saya bukanlah peminat Kafkaesque, malah bukan juga peminat bacaan fiksi.

Namun, itu tak membantutkan saya untuk membaca serba-sedikit mengenai Hedayat yang kontroversi ini. Lahir pada 1903 dan meninggal pada 1951. Perginya tragis: bunuh-diri di sebuah pangsapuri di Perancis dengan menggunakan gas.

Homa Katouzian barangkali telah membicarakan dengan baik tentang riwayat hidup penulis fiksi-psiko dan satira ini. Sadeq Hedayat: The Life and Legend of An Iranian Writer bukan saja catatan paling lengkap, sejauh yang saya ketahui mengenai Hedayat, tapi juga mengulas karya-karyanya sekali. Biarpun, untuk orang seperti saya, bahagian ulasan bukunya adalah bab paling membosankan, namun setidaknya, saya rasa berbaloi mengenali Hedayat dengan lebih dekat, setelah membaca karya tersebut.

Dari buku tersebut, saya menyedari bahawa pengalaman Hedayat ini, adalah serba-sedikit terimbas dalam pengalaman tiap “manusia yang mencari”. Dalam pencarian ini, kita boleh sampai satu keadaan di mana boleh merasa bosan kepada segalanya.

Kita bosan untuk bertemu dan berbicara dengan sesiapapun, termasuk yang pernah dianggap rapat. Kita, malah bosan, untuk membuat apa yang sepatutnya menjadi kegemaran kita. Lebih dashhat, kita hatta bosan untuk hidup. Pada satu detik, seperti yang dikatakan Hedayat sendiri, tiada apa lagi yang lebih gelap dari hitam itu sendiri. Bererti, kebosanan itu boleh membawa kita kepada hitamnya hidup: mati.

Benar bahawa tiap manusia hidup dan mati, itu terang lagi bersuluh. Tapi, terlepas dengan cara kematian, orang akan selalu memikirkan tentang apa yang ditinggalnya. Hedayat tinggalkan kita dengan kontroversi, yang malah disebut Katouzian, bunuh-diri kontoversinya sebagai karya-seni terakhirnya. Tapi, ia juga pergi dengan mewariskan karya-karya kontroversinya yang lain, --yang dianggap sebagai lahir dari pena seorang yang mementingkan kesempurnaan.

Jika ada yang paling terkesan buat saya dari seorang Hedayat, adalah bagaimana untuk selalu berusaha memeriahkan hidup kita. Dan, usaha yang paling afdal, sejauh yang saya fahami, adalah dengan selalu bersentuhan pada yang lain. Sebab, kita wujud, kita hidup, hanya kerana adanya yang lain –sama ada untuk kita bersahabat sekaligus bermusuh; menatang sekaligus membangkang.

Barangkali, hanya dengan cara ini akan membuatkan hidup kita terus beralun dalam sebuah keharmonian, dan agar tak tersangkut pada titik-mutlaknya pesimisme mahupun optimisme.

1 comment:

Anonymous said...

Terima kasih untuk artikel ni. Tepat pada masa.