www.flickr.com

Tuesday, August 8, 2006

Taufik

Masihkah anda ingat lagi? Satu ketika, Taufik Abdul Halim, anak muda lulusan UiTM ini pernah bikin kekecohan, sekurang-kurangnya antara dua negara; Malaysia dan Indonesia. Saya, ketika membaca berita pertama tentang beliau yang terpapar di dada-dada akhbar ketika itu pula menjadi sungguh hairan --> bagaimana anak muda yang sudah punya laluan kehidupan yang senang, akhirnya memilih untuk menjadi seorang militan yang berpaksi agama.

Lama setelah kehairanan ini bergeser dalam fikiran, kini saya ditemukan dengan makalah ini – Taufik bin Abdul Halim: Jejak petualangan terpidana kasus teror bom di Jakarta – yang dilaporkan oleh Agus Sopian. Laporan secara panjang lebar (34 halaman) ini cuba mengungkapkan perjalanan cita-cita anak muda ini. Dan, bagaimana cita-citanya ini akhirnya telah memerangkapnya dalam satu jaringan puak-puak yang cintakan Islam, tetapi dengan menggunakan pendekatan yang tersasar. Kini, beliau masih mendekam hingga 20 tahun di jejari besi --> ekoran ideologi yang ditanam oleh tok-tok guru agamanya. Dengan peluang yang masih terbuka, kita du'a moga Tuhan meluruskan cita-cita Islamnya (dan kita) dengan sebuah pendekatan agama yang rasional, progresif dan dinamik. Amin...

[Foto di atas telah di curi dari Utusan Malaysia, 7 Mei 2002]

7 comments:

Aqil Fithri said...

Taufik bin Abdul Halim: Jejak petualangan terpidana kasus teror bom di Jakarta.

Cerita oleh Agus Sopian
Reportase Bersama Taufik Andrie, November 2003 – 2004


SEBUAH DAIHATSU MERAH HATI MELUNCUR pelan, menjinakkan keramaian lalu lintas kawasan Senen, Jakarta. Di sekitar Kwini, tak jauh dari toko buku Gunung Agung, Abbas menginjak pedal rem. Tiga orang turun dari kendaraan. Mereka Dany, Agung, dan Abdullah. Dany berjalan duluan setelah menyambar kantong plastik dari tangan Agung.

Sampai di emplasemen Atrium Plaza, mereka berpencar, masing-masing menuju tiang-tiang beton. Ada lima tiang di situ. Dany berhenti di tiang kedua dari gerbang masuk. Abdullah berada di sisi kiri di tiang jauh pertama dekat lobi, mengawasi pintu keluar. Jarak mereka sekitar lima meter. Sedangkan Agung mengambil posisi di tiang keempat, berjarak sekitar 10 meter dari Dany –hampir tepat berhadapan dengan pintu masuk yang terpisahkan oleh ruas lintasan taksi.

Dari balik kacamata minusnya, sejenak Dany memeriksa keadaan. Ditaruhnya kantong plastik itu di atas conblock, beberapa centimeter dari kaki kanannya. Seraya menunggu komando, dia menyandarkan punggungnya ke tiang beton. Kaki kiri ditekuk, bagian tumitnya menempel ke dinding. Badannya miring ke kanan tepat menghadap pintu masuk utama. Tampak olehnya gerai Pizza Hut yang mulai surut pengunjung.

Selang beberapa waktu, Abbas melintas di hadapan Dany dan memberi isyarat dengan gelengan kepala. Dany tak melihat. Demikian pula isyarat melalui gerak tangan dari Abdullah yang mengekor Abbas. Semuanya berlangsung serbacepat.

Lalu-lalang orang yang keluar-masuk Atrium mulai berkurang. Dany melirik jam tangan. Masih ada waktu, pikirnya. Matanya kembali liar memeriksa keadaan. Ketegangan mulai merayapi sekujur tubuhnya. Dia kemudian mendekati boks telepon umum, pura-pura sedang menunggu giliran.

Tiba-tiba saja, blaaarrr ...

Tubuh Dany terguncang dan mental. Lampu-lampu mati. Sejumlah plafon langit-langit terkelupas dan sebagian di antaranya rontok berikut kap lampu-lampunya. Pecahan kaca, terutama dari gerai Pizza Hut, berceceran di lantai. Dinding-dinding kayu pelapis tembok jebol. Orang-orang dari dalam Atrium Plaza menghambur keluar. Jerit histeris massa membahana. Chaos.

Esoknya, Kamis 2 Agustus 2001, hampir seluruh koran Jakarta memberitakan ledakan itu, yang ditenggarai berasal dari sebuah bom. Disebutkan, ledakan sedikitnya mencederai enam orang korban. Dany termasuk salah satu yang disebut. Lainnya, Suryadi, Windu Pratiwi, Anita Abdul Aziz, M. Darodjat, dan Yudi Mila Purnomo. Empat nama pertama pengunjung mal, sedang Purnomo sopir taksi. Suryadi, M. Darodjat, dan Dany segera dilarikan ke Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat karena luka-luka serius. Dany bahkan harus diamputasi kaki kanannya malam itu juga.

Dany hanya “menikmati” status korban dalam hitungan hari. Kurang dari seminggu, dia sudah dicurigai polisi. “Bom meledak terlalu dini. Ada kemungkinan salah satu dari korban adalah pelaku,” kata Brigadir Jenderal M. Hamim Soeriaamidjaja, kepala Pusat Laboratorium Forensik.

Identitas Dany pun mengundang kecurigaan. Sekali waktu dia mengatakan dirinya bernama “Doni,” lain saat “Dodi Mulia.” Tak sedikit pula wartawan yang menulis “Yudi Mulia,” yang agaknya tertukar dengan identitas korban sopir taksi itu.

Kecurigaan polisi bukan tanpa dasar. Dari paket barang bukti yang ada, mereka menemukan sehelai kartu penduduk bernomor seri 09.5304.23573.7019, yang dikeluarkan Kelurahan Kebagusan, Pasar Minggu, Jakarta. Di sana tertera sebuah nama: Dany. Soalnya adalah kenapa si empunya nama menyebut dirinya “Doni” atau “Dodi” itu? Apa sesungguhnya yang dia sembunyikan? Komisaris Besar Adang Rochjana, kepala Direktorat Reserse Kepolisian Daerah Metro Jaya, tak hanya meragukan ucapan Dany, tapi juga kartu penduduk milik Dany. Rochjana bilang, bisa saja identitas itu bukan nama asli. “Nama alias kan kadang-kadang banyak.” Dan Rochjana benar.




DANY BERASAL DARI MALAYSIA. DALAM kartu penduduknya, Identity Card A. 2997604, dia tercatat tinggal di Jalan Intan, Kluang, Johor. Lahir 21 Maret 1975, dia bernama lengkap Taufik bin Abdul Halim.

Dany anak kedua dari tujuh bersaudara. Seperti halnya kebanyakan nama muslim tradisional, Dany dan saudara-saudaranya tak memiliki nama referensi kedua, kecuali si bungsu, Muhammad Iqbal. Si sulung bernama Mariah, diikuti Dany, kemudian berturut-turut Faisal, Mona, Aisyah, dan Zahra. Di belakang nama mereka diterakan “bin” untuk pria dan “binti” untuk perempuan, yang diikuti nama ayah.

Abdul Halim, ayah mereka, pensiunan pegawai pemerintah sejak 1990-an, paling tidak sejak Dany beranjak remaja. Kegiatan Halim tak banyak. Dia biasanya mengasuh si kecil. Pada hari-hari tertentu, taruhlah saat perjamuan keluarga, Halim jadi koki. “Beliau lebih pintar masak daripada ibu,” kata Dany.

Di mata Hamidon Abdullah, tetangga Dany, Halim seorang yang tegas dalam mendidik anak-anaknya. Sebagaimana dikutip Najibah Hassan dan Habibah Omar dari Utusan Malaysia, Abdullah mengatakan bahwa seluruh anak Halim tak pernah lepas dari kesantunan. Dany, misalnya, selalu berucap salam tatkala berpapasan dengan orang selingkungan yang dikenalnya. “Dany taat kepada perintah orang tua.”

Kebalikan dari Halim, ibu mereka, Juliah, seorang lembut hati. Dia mengajarkan Dany kesabaran dan ketenangan dalam menyikapi segala sesuatu. Barangkali karena pengaruh kuat ibunya, Dany terkenal pendiam di kalangan teman-temannya. Salehudin, teman remaja Dany, mengungkapkan bahwa saking pendiamnya, Dany tak punya sahabat karib. Dia gemar menyendiri, seolah tak acuh pada keadaan sekitar. Tapi jangan tanya untuk urusan agama, telinga Dany bisa berdiri seketika. Dia sedia berdebat kapan saja.

Kesamaan paling mendasar dari pasangan Halim-Juliah adalah ketaatan beribadah. Hal ini ditularkan pada anak-anak mereka sejak dini, antara lain dengan selalu mengingatkan untuk salat saat datang waktunya dan belajar mengaji Alquran selepas Maghrib.

Untuk pendidikan dasar, sekolah agama jadi pilihan mereka. Dany sendiri, begitu sampai pada usia belajar formal, dimasukkan ke sekolah agama di Jalan Mengkibul, Kluang, sekitar 10 kilometer dari rumah. Tak ada yang istimewa dari prestasi belajar Dany kecil. Setidaknya begitulah menurut Dany.

Tahun 1988, dia menamatkan pendidikan dasarnya, dan meneruskan ke sekolah tinggi Maahad Johor di Johor Bahru. Sekolah tinggi ini setara dengan paket sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas di Indonesia.

Segera setelah lulus pada 1993, Dany berangkat ke Pakistan untuk lebih memperdalam ilmu agama. Sebelum masuk Jamiat Anwarul Qur’an, Karachi, dia sempat singgah di Tajwidul Qur’an, Shahjahanabad. Dari keduanya, dia mendalami ilmu fikih dan tafsir, selain bahasa Arab. “Waktu di sana,” ujar Dany dalam suatu perbincangan, “saya banyak belajar agama. Saya merasa waktu di sekolah dasar belajar agama kurang. Kurang senang baca-baca buku.”

Di Pakistan, sebuah momentum menggiring Dany ke sebuah perubahan sikap. Saat itu, dia terserang malaria dan digotong ke sebuah rumah sakit militer di Muzaffarabad, kawasan utara Islamabad. Di sana dia melihat banyak serdadu dan milisi yang tewas dan terluka akibat perang. Mereka baru pulang dari Afghanistan. “Itulah titik perubahan dirinya,” demikian Utusan Malaysia.

Keinginannya untuk melihat dari dekat apa yang terjadi di medan perang menggerakkan dirinya untuk menyeberangi perbatasan. Untuk kali pertama, pada 1994 Dany menginjakkan kaki di Afghanistan, yang sedang mendidih oleh perang saudara menyusul kejatuhan rezim boneka Uni Soviet di bawah pimpinan Najibullah dua tahun sebelumnya. Saat itu dua kekuatan mujahidin, kubu Burhannudin Rabbani dan kubu Gulbudin Hekmatyar, saling memperebutkan Kabul atas nama hereditas –masalah yang selama berabad-abad mewarnai perebutan kekuasaan di Afghanistan.

Rabbani seorang akademikus. Dia diangkat jadi presiden pada 1992 menggantikan Najibullah. Di masa pergolakan, Rabbani memimpin Jamiat al-Islami, organisasi mujahidin yang dikenal moderat. Dia berasal dari suku Tajik, suku kedua terbesar setelah Pashtun. Hekmatyar seorang “malaikat perang” didikan militer Pakistan dan Amerika Serikat. Dia mengendalikan Hizbi al-Islami, organisasi mujahidin yang menghimpun anak-anak muda terpelajar. Dia berasal dari suku Pashtun.

Untuk meredakan perang, Rabbani merangkul Ahmad Syah Massoud, pemuka suku Tajik, dan menempatkannya sebagai menteri pertahanan. Rabbani juga menawari Hekmatyar untuk duduk di pemerintahan koalisi. Tawaran Rabbani mendapat sambutan. Hekmatyar jadi perdana menteri pada Maret 1993. Koalisi ini tak bertahan lama. Januari 1994 Hekmatyar kembali ke gurun. Kali ini ditemani Abdul Rashed Dostum, jenderal didikan militer Soviet yang beraliansi dengan rezim boneka Uni Soviet di masa lalu. Keduanya membangun lagi milisi Hizbi al-Islami di bawah sponsor Pakistan dan Amerika. Banyak pelajar Pakistan direkrutnya. Mereka memosisikan benteng pertahananannya di Jalalabad. Dari sana Hekmatyar menggempur kota Kabul, dan mendapat julukan “Si Pemusnah Kabul.”

Dany mengatakan, dirinya menyeberang ke Afghanistan melalui Peshawar dan bergabung dengan pelajar-pelajar lain di Jalalabad. Para pelajar asal Malaysia umumnya dikoordinasikan oleh organisasi massa terbatas bernama Massa-Parkindo.

Sebelum turun ke medan tempur, Dany lebih dulu masuk muaskar (pusat pelatihan militer) Taibah di Konark selama dua minggu. Di sini dia hanya melakukan pengenalan taktik militer dan memompa semangat. Pelatihan yang terbilang serius dijalani Dany di muaskar Khost, daerah penghubung antara Jalalabad dan Kandahar, provinsi kelahiran Taliban.

Seingatnya, dia memasuki kota tersebut pada Agustus 1995. Selama tiga bulan dia mempelajari teknik-teknik kemiliteran, mulai menembak dengan senjata api AK-47, melempar mortir, hingga membuat bom sederhana. Tuntas di sini, dia berangkat menuju muaskar di Khalden dan belajar beragam persenjataan mesin, selain taktik militer antitank. Muaskar ini menyimpan banyak cerita, antara lain disebut-sebut sempat jadi pusat latihan sejumlah terpidana kasus terorisme seperti Ahmed Ressam dan Mukhlas.

Dany hanya beberapa bulan berada di garis depan. Peperangan pelan-pelan menyurut segera setelah Gulbudin Hekmatyar menerima tawaran Burhannudin Rabbani untuk melakukan gencatan senjata pada 1996. Hekmatyar kembali jadi perdana menteri. Di atas kertas, mestinya situasi ini mendinginkan pergolakan. Semestinya pula pemerintahan Rabbani lebih solid.

Lain yang tersurat lain di lapangan. Para pendukung Hekmatyar kecewa dan marah. Mereka menuding Hekmatyar hanya mencari tahta dan bukan berjuang untuk keyakinan politiknya yang berlandaskan syariat Islam, seperti yang pernah didengung-dengungkannya. Hizbi al-Islam berantakan. Sebagian eksponennya menyeberang ke Taliban, mengikuti jejak pemimpin spiritual organisasi itu Maulani Younus Khalis. Osama bin Ladin pun meninggalkan Jalalabad dan pergi ke Kandahar, markas besar Taliban yang kini sudah lebih bertaring. Hekmatyar makin terkucil ketika Pakistan mengalihkan dukungan kepada Taliban, menguntit langkah Amerika.

Di tingkat akar rumput, para pelajar dari berbagai negara pulang ke negeri masing-masing. Demikian pula Dany. Dia tak menyaksikan dari dekat kejatuhan pemerintahan koalisi Rabbani-Hekmatyar pada 27 September 1996 setelah Kabul dibombardir milisi Taliban. Sementara Rabbani, Hekmatyar, dan Jenderal Dostum menyingkir ke pegunungan, pada Oktober 1996 Dany mendarat di Kuala Lumpur setelah terbang dari Karachi, Pakistan.




MALAYSIA SUDAH DI MATA. SIAL BUAT Dany, begitu turun dari pesawat, dia langsung digiring Special Branch (polisi rahasia) Kerajaan Malaysia. Dany segera berhadapan dengan Internal Security Act (ISA), undang-undang khusus keamanan dalam negeri yang membolehkan aparat berwajib menahan siapa saja yang dicurigai tanpa melewati prosedur resmi peradilan.

Sejumlah media Malaysia melaporkan, penangkapan Dany lebih didasarkan pada laporan interpol Pakistan, yang menyatakan pihaknya pernah menangkap seorang Malaysia yang menyeberangi perbatasan Pakistan tanpa dokumen. Polisi Malaysia mengidentifikasi, tahanan itu tak lain dari Dany. Dia sempat kabur pada 1995 dari Afghanistan karena tak tahan oleh kerasnya pelatihan militer di sana. Seluruh dokumen ditinggalkan Dany di muaskar.

Dany membantah soal itu. “Taklah, saya tak melarikan diri.”

Sampai kini dia tak pernah tahu apa sebenarnya tuduhan aparat keamanan di sana berkenaan dengan penahanannya. Dany pun enggan mengatakan di mana dirinya ditahan. “Itu penjara rahasia,” kata Dany, seraya memberi petunjuk bahwa tempat tersebut pernah digunakan untuk menahan orang-orang partai komunis ketika pemerintah Malaysia melakukan gerakan pembersihan politik pada 1960-an.

“Air Molek?”

Dany mengangkat bahu. Dia tetap menolak menyebutkan nama. “Penjara itu di luar Kuala Lumpur.”

Bisa jadi Air Molek. Penjara ini terletak di ring luar Johor, di wilayah Melaka. Bagi sejumlah aktivis, Air Molek penjara menyeramkan. “Dengar dari cakap orang, tahanan suka dibogel,” kata Vivian Chow, seorang wartawan Malaysia. Dibogel artinya ditelanjangi. Untungnya, perlakuan seperti itu tak pernah dialami Dany. Lebih beruntung lagi, pada Desember 1996 dia dilepas.
Beberapa bulan kemudian Dany menjalani kursus prauniversitas di daerah Kelana Jaya. Dia bersiap-siap kuliah. Tahun 1997, Dany masuk Universitas Teknologi Mara di Shah Alam, mengambil jurusan survei dan perencanaan arsitektur.

Kampus tak membuat Dany jadi akademikus. Kegiatan sehari-hari tak hanya menghadiri diskusi-diskusi ilmiah, tapi juga mengikuti tabligh-tabligh akbar, terutama yang digelar sebuah organisasi rahasia, Kumpulan Mujahidin Malaysia (KMM). Dany mengatakan bahwa dirinya juga pernah menghadiri pengajian yang menampilkan penceramah Hambali, tersangka terorisme yang tempo hari ditangkap di Thailand dan kabarnya kini berada dalam tahanan Amerika.

Hambali lahir di Cianjur 4 April 1964 dengan nama Cecep Nurjaman. Pada 1983, saat berusia 19 tahun, dia pergi ke Malaysia untuk bekerja, sampai kemudian terbit niatnya untuk berangkat ke Afghanistan dan bergabung dengan kaum mujahidin selama beberapa tahun. Asia Pacific Center for Security Studies –organisasi riset yang digagas Bill Clinton pada 30 September 1994– menyebutkan bahwa sekembalinya ke Malaysia, Hambali bergabung dengan sejumlah veteran perang Afghanistan dan ikut mendirikan Konsojaya SDN BHD, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang ekspor minyak kelapa sawit.

Hambali masuk jajaran dewan direksi yang dipimpin Wali Khan Amin Shah, tersangka pemboman Philippines Airlines 747-200 dalam kasus Oplan Bojinka pada Desember 1994. Amin Shah sendiri ditenggarai punya hubungan dekat dengan Muhammad Jamal Khalifa, sepupu Osama bin Ladin, dalam aktivitas organisasi International Islamic Relief Organization yang berpusat di Zamboanga City, Filipina.

Bersama Hambali –yang selama di Malaysia menggunakan nama Riduan Isamuddin– dalam dewan direksi itu duduk pula Mohammad Iqbal Abdurrahman, karib Hambali selama berada di Malaysia dan Afghanistan. Abdurrahman, yang juga dikenal dengan nama Fikiruddin Muqti, disebut-sebut sebagai pemimpin spiritual di tubuh KMM. Siapa KMM? Organisasi ini didirikan pada 12 Oktober 1995 oleh Zainon Ismail, veteran perang Afghanistan. Lima tahun kemudian, KMM dipimpin Nik Adli Nik Aziz, yang juga veteran perang Afghanistan, anak kandung Nik Aziz Nik Mat, tokoh kunci Partai Islam (PAS) Malaysia.

Desas-desus beredar, kehadiran Nik Aziz di tubuh KMM jadi sasaran empuk pemerintah Malaysia dalam melancarkan spin doctor untuk meredam pengaruh PAS. Seperti itukah? Kemungkinan selalu ada. Tapi KMM pun tak bisa mengelak dari sangkaan bahwa terdapat indikasi kalau organisasi tersebut cenderung menggunakan kekerasan dalam mencapai tujuan ideologisnya. Salah satu di antaranya adalah keterlibatan Yazid Sufaat, seorang pensiunan militer, dalam aksi perampokan Southern Bank di Petaling Jaya. Sufaat anggota senior KMM, ditahan pada 2001 di bawah ISA.

Simon Elegant dalam “Getting Radical” di majalah Time menambahkan, perilaku keras KMM ditunjukkan oleh dugaan keterlibatan mereka dalam sejumlah pemboman gereja. Beberapa anggota KMM yang ditangkap juga dijerat pasal-pasal kepemilikan senjata api ilegal. Dari berbagai kasus yang muncul sampai akhir 2001, sedikitnya 23 anggota KMM ditahan di bawah ISA. Beberapa di antara mereka dianggap punya kaitan dengan PAS. Katakan saja Hazmi Ishak, eks pelajar di Pakistan pada kurun 1990-1995 dan tercatat pernah ikut pelatihan militer di Afghanistan.

Dalam KMM, nama Dany tak tercatat, baik sebagai anggota maupun pengurus. Namun, jika namanya terus dikait-kaitkan dengan KMM, itu barangkali lebih pada jejaknya di masa lalu sebagai sesama eks veteran perang Afghanistan. Menurut data kepolisian Malaysia, dalam organisasi tersebut terdapat nama Zulkifli bin Abdul Khir alias Musa, ketua KMM Selangor. Dia kini jadi buronan polisi Malaysia dengan dugaan mengotaki pembunuhan tokoh Kristen Malaysia, Joe Fernandez. Dan siapa Zulkifli? Dia suami Mariah, kakak sulung Dany. Zulkifli pula yang mengajak Dany mengikuti sejumlah aktivitas dalam tubuh KMM.

Dany enggan mengomentari sepak-terjang Zulkifly. Begitu pula Sufaat, yang diisukan sebagai salah seorang mentor Dany. Pada kesempatan lain, dia membantah pernah menerima uang kiriman dari Sufaat saat Dany berada di Jakarta. Yang tak dibantah olehnya adalah kepergiannya untuk berjihad di Ambon, ditemani beberapa aktivis KMM. “Saya masuk lewat Hambali,” kata Dany.



KONFLIK AMBON, DENGAN SENTIMEN AGAMA sebagai bahan bakarnya, berlangsung sejak Januari 1999 dan sempat mendingin selama beberapa bulan. Pada Juli 1999 konflik kembali memanas, dan mencapai titik didih pada Desember 1999. Selama beberapa bulan warga Ambon hidup dalam suasana tenang sampai akhirnya konflik lagi-lagi meledak dalam skala masif sejak April 2000.

Bukan sekadar perang mulut atau saling lempar batu, mereka yang bertikai berada dalam situasi perang sungguhan. Ada serdadu, senjata api, mortir, bom, barikade, benteng-benteng pertahanan, stategi, propaganda perang, taktik militer. Pasukan merah yang merepresentasikan aktivis kristiani dan pasukan putih yang mewakili aktivis muslim, berhadapan secara vis a vis dan hanya mengenal dua pilihan untuk keluar dari konflik: hidup atau mati.

Malangnya lagi, baik pasukan merah maupun putih menuding tindakan militer Indonesia bias, bahkan cenderung berpihak ke salah satu kubu. Pasukan merah menuding Batalyon 733 Pattimura berada di pihak muslim, sedang pasukan putih menuding Batalyon Gabungan berada di pihak kristiani. Keadaan semacam ini tak urung membuat situasi tambah runyam dan peperangan makin meluas ke berbagai kawasan.

Masariku Network, sebuah jaringan informasi yang dikelola aktivis kristiani mencatat, perang umumnya berlangsung di sepanjang garis pantai Teluk Ambon mulai Tawiri, Tantui, Galela, sampai Negeri Lama. Sebuah kampung yang semula rukun dan tenang bisa hancur seketika, menyisakan puing-puing dan abu dengan mayat-mayat gosong di dalamnya. Warga yang ketakutan dan frustasi menyingkir ke daerah-daerah yang dirasa aman, seperti daerah Mahila, Hutumuri, Toisaku, atau pedalaman Passo.

Di sejumlah wilayah Indonesia, aktivis muslim berkeliling dari satu daerah ke daerah lain untuk mengabarkan keadaan Ambon. Beberapa dari mereka membawa rekaman video untuk ditonton beramai-ramai. Acara biasanya dipuncaki oleh diskusi dan pendaftaran anggota mujahid –sebutan buat mereka yang rela membela Islam dengan berperang menurut syariat Islam– untuk berangkat ke Ambon. Konstelasi senada juga berlangsung di Malaysia. Aktivis muslim bahkan menyebar ke sejumlah kampus dan pusat-pusat intelektualitas, termasuk ke tempat Dany kuliah: Universitas Teknologi Mara.

Juni 2000, beberapa bulan setelah lulus dan menyandang gelar insinyur, Dany berkumpul bersama sembilan temannya dari berbagai daerah. Mereka adalah Yasin dan Saad dari Selangor, Lukman dari Perak, Ilham dan Hidayat dari Kuala Lumpur, Ali dari Pahang, serta Rusli, Usman, dan Ismail dari Terengganu. Mereka berbulat tekad untuk berangkat ke Ambon melalui jalur laut.

Malam hari sebuah speedboat bermesin satu dengan panjang sekitar lima atau enam meter meluncur dari Sabah, Malaysia, dalam kecepatan tinggi. Dany dan kawan-kawan berada di dalamnya. Yasin memimpin rombongan.

Di pelabuhan Nunukan seorang tak dikenal menjemput dan menginapkan mereka di sebuah hotel. Dany tak hafal nama hotel itu. Dia hanya ingat selama tiga hari dua malam berada di sana, hingga akhirnya bisa memasuki sebuah pelabuhan kecil di Sulawesi utara setelah melewati perairan Toli-toli. Dari sini mereka berangkat ke Manado dengan menggunakan bus.

Dany berusaha masuk ke Poso yang sedang memanas. Tak jadi. Semua jalan menuju ke sana sudah terblokir, selain susahnya kendaraan. “Lagi pula,” ungkap Dany, “niat awal kami kan memang ke Maluku.”

Maka Dany bersama kawan-kawannya pun terbang ke Ternate dengan sebuah pesawat Fokker kecil yang muat 30-40 orang. “Kami disambut baik masyarakat tempatan (setempat),” ungkap Dany, mengomentari daerah persinggahan awal di Maluku. “Kami langsung gabung dengan masyarakat tempatan itu.”

Dany tak punya buku harian yang mendeskripsikan pengalamannya, termasuk kegiatan hari pertamanya di Maluku. Tapi dia ingat bahwa pada hari-hari awal dia lebih sering berada di rumah sakit darurat yang dibangun warga Ternate. Hatinya trenyuh begitu melihat sejumlah korban bergeletakkan dengan tubuh tertembus peluru.

“Masya Allah, itu kan AK,” Dany memekik ketika seorang dokter memperlihatkan butiran timah yang menancap pada seorang pasien.

“Benar, itu AK?”

“Ya. Itu peluru AK-47.”

Dadanya bergemuruh. Dany merasa, kehadiran senjata otomatis di pihak kristiani menempatkan muslim pada posisi lemah. “Muslim pakainya cuma senjata rakitan, bagaimana mereka menahan serangan senjata otomatis macam itu.”

Di medan pertempuran dia kian terkejut. Pangkalnya, selain AK-47 dan sejumlah senjata otomatis lain, pasukan merah juga membawa peluncur roket antitank buatan Prancis. “Berapa itu harganya? Dapat dari mana mereka? Saat perang lawan mereka, kita kewalahan. Bagaimana tidak, mereka tembakannya sudah rentetan, sedang kita pelurunya keluar satu-satu. Mana senjata rakitan pula.”

Sadar kalah persenjataan, Dany dan kawan-kawan sering memilih menghindari pertempuran terbuka, atau malahan bersembunyi rapat-rapat. Dany menceritakan pengalamannya ketika memasuki kampung Tulehu. Belum lagi bertemu penduduk, trang … trang … trang …, rentetan senjata otomatis terdengar dari moncong senapan, dan peluru bersliweran di sekitar Dany. Dia dan kawan-kawannya bergerak zig-zag dan segera mengambil posisi aman dengan bersembunyi di balik dinding-dinding kayu. Senjata sudah dikokang untuk membalas. Dia baru sadar kalau dinding kayu tak cukup mampu melindunginya untuk membalas serangan. Dinding itu dilubangi satu per satu hingga Dany akhirnya memilih tiarap. “Ya ... sembunyi saja.”

Bukan sekali-dua dia terkepung. Saat berada di kampung Moti, misalnya, berjam-jam Dany dan kawan-kawannya tak bisa berbuat banyak selain merapatkan kepala dengan tanah, menghindari rentetan tembakan, mulai pukul 15.00 sampai pukul 23.00. Kepungan peluru senjata otomatis terlama dialami Dany di Batu Merah. Pasukan merah bersama militer Indonesia yang promereka, memuntahkan peluru sejak petang hari dan baru berhenti pada pagi hari esoknya. Penyerangan ini berlangsung dari dua arah, Kebun Cengkih dan Lapangan Mardika. Kelompok Dany terjepit dan tak bisa membalas serangan. “Senapan mesin datang berganti-ganti.”

Dany dan satuannya sengaja datang ke sana setelah mendengar informasi dari warga yang mengatakan bakal ada serangan terhadap Batu Merah. Sejak siang Dany sudah duduk bersama penduduk. Dia percaya, aparat militer propasukan putih akan mampu menghadang gerakan penyerbu. “Rupanya, aparat siluman kita dihabisi,” kata Dany mengacu pada anggota militer yang berada di pihak pasukan putih.

Serangan itu membuat pasukan di Batu Merah kalang-kabut. Dari satu kios ke kios lain, Dany dan kawan-kawan lintang pukang menghindari kejaran peluru yang datang dari kampung sebelah atas. Mereka berusaha mencapai kendaraan di ujung pasar. Di tengah hujan peluru, mereka melarikan mobil dengan kesetanan menuju arah pantai. Sejumlah peluru tak urung menembusi mobil.

“Untung tak kena tangki,” kata Dany. “Ada marinir yang melihat kami ditembaki di jalan-jalan. Mereka diam saja. Banyak yang mati waktu itu. Saya paling ingat ada ibu-ibu yang mau berangkat haji, mati tertembak. Kasihan.”

Kinerja buruk militer Indonesia melahirkan frustasi di kalangan warga Ambon. Dan ketika rasa frustasi itu memuncak, mereka memutuskan untuk menjebol gudang peralatan militer milik Tentara Nasional Indonesia (TNI), nama institusi militer Indonesia, di daerah Tantui. Dany datang ke sana, tapi senjata rampasan sudah habis dibagi-bagikan penduduk. Dany akhirnya mengitari kota Ambon. Di lingkaran luar, Dany mendapati perajin senjata rakitan yang sudah bisa membikin senapan semiotomatis.




KETIKA DANY TIBA DI MALUKU, PASUKAN putih sedang gundah. Mereka baru saja kehilangan kecamatan Tobelo, wilayah yang secara tradisional dihuni kaum muslim. Forum Komunikasi Ahlussunnah Wal Jamaah, deklarator-cum-organisasi induk Laskar Jihad, dalam siaran persnya terus menggelorakan semangat pasukan putih seraya meminta bantuan para donatur untuk membiayai anggaran perang. “Setiap harinya kami membutuhkan dana sekitar Rp 15 juta biaya logistik.”

Dana tersebut di luar biaya akomodasi anggota Laskar Jihad, yang saat itu menurut Forum Komunikasi Ahlussunnah Wal Jamaah baru mencapai 3.150 orang. Mereka menginap dan makan dari penduduk. Biaya logistik lebih banyak dialokasikan untuk mendapatkan peluru. Dan ini bukan perkara sulit, asal ada duit. Dany mengatakan, senjata dan peluru bisa didapat dari anggota militer Indonesia. “Ada permainan oknum aparat di sana. Ada yang jual-jual senjata. Kalau yang punya duit beli, kalau yang tak mampu ya bikin, atau beli yang rakitan. Aparat-aparat siluman yang sering bantu.”

Perang di Ambon, buat Dany, benar-benar menguras isi kantong. “Perang dua minggu saja bisa bangkrut beta,” kata Dany mengutip guyon penduduk di sana.

Bagi Laskar Jihad, uang tampaknya bukan halangan. Mereka mendapatkannya dari sejumlah simpatisan, selain mengedarkan kotak sumbangan di jalan-jalan mulai Jakarta, Bandung, sampai Surabaya. Para mujahid juga diberi amaran untuk membawa bekal secukupnya mengingat markas komando tak mampu memberikan fasilitas logistik yang memadai. Semangat seperti itulah yang membuat milisi Laskar Jihad terus bertambah di Ambon, dari ratusan orang hingga ribuan.

Laskar Jihad dipimpin oleh ustadz Ja'far Umar Thalib. “Saya pernah ikut ceramah Ja'far Umar Thalib dua kali saat di Ambon. Saya kenal dan tahu dia, tapi dia tak tahu saya,” ungkap Dany.

Sebelum Laskar Jihad hadir, nama Thalib nyaris tak banyak disebut media. Belakangan publik tahu kalau Thalib pernah ikut berperang di Afghanistan. Asia-Pacific Center for Security Studies menyebut Thalib sebagai veteran gelombang pertama dari Asia Tenggara dan dikenal dengan “Group 272.” Grup ini berada di antara sekian banyak kelompok yang ikut ambil bagian pada masa akhir kekuasaan Uni Soviet di Afghanistan, sekitar 1982-1992.

Kala itu, sedikitnya 3.500 orang muslim dari 35 negara mengalir ke Afghanistan dan bergabung dengan mujahidin setempat. Selain Thalib, di dalam kelompok tadi terdapat nama-nama terkenal yang belakangan dikaitkan dengan kasus-kasus terorisme. Mereka di antaranya Mohammad Iqbal Abdurrahman, Nik Aziz Nik Adli, Abdulrajak Janjalani, serta Hambali. Dari nama-nama ini, setidaknya ada dua nama lain di luar Thalib yang turut memainkan peran dalam konflik Ambon. Mereka Abdurrahman dan Hambali.

Peran Hambali dalam kasus Ambon muncul dari nyanyian Ustadz Aceng alias Iqbaluzzaman di Bandung. Dalam pengakuannya di depan pengadilan, Iqbaluzzaman mengatakan bahwa dirinya pernah diceramahi Hambali di Hotel Rinjani, Bandung, pada 2000. Klimaksnya, Hambali meminta Iqbaluzzaman untuk membantu meringankan penderitaan muslim Ambon dengan melakukan “Aksi Ramadan,” yang belakangan diketahuinya memuat rencana pemboman terhadap sejumlah gereja di Bandung dan sekitarnya. “Ini perang kota,” kata Hambali sebagaimana ditirukan Iqbaluzzaman.

Sedangkan Mohammad Iqbal Abdurrahman, yang juga dikenal sebagai Abu Jibril, selain memimpin pusat rekrutmen aktivis muslim di tubuh KMM, juga santer dikabarkan memimpin sebuah elit pasukan dengan persenjataan militer lengkap. Pasukan Abu Jibril pula yang dituduh banyak media internasional berada di balik peristiwa berdarah “Galela Massacre” di Ambon yang menewaskan sedikitnya 250 orang kristiani dalam sekali gempur pada 19 Juli 2000. Abu Jibril bukan orang Malaysia asli. Dia seorang eksil Malaysia asal Indonesia. Dia pernah masuk penjara Indonesia pada awal 1980-an.

Tak ditemukan dokumen yang menunjukkan adanya koordinasi tingkat tinggi antara pasukan putih Abu Jibril dan Laskar Jihad. Bahkan di lapangan sekalipun. Dalam pandangan Dany, baik mujahidin Malaysia maupun mujahidin Indonesia punya struktur komando masing-masing, dengan wilayah operasi yang berbeda-beda pula.

Akibatnya, serangan dari pasukan putih tak jarang berlangsung secara sporadis dan spontan. Dany mengalami sendiri eksesnya. Ketika berada di kampung Batu Merah, dia baru saja mengikuti rapat kampung untuk membahas kemungkinan serangan balasan terhadap pasukan merah yang baru saja memorak-porandakan kampung. Warga di sana ogah-ogahan mengingat minimnya persediaan amunisi dan kalah dalam jumlah personel. Belum lagi bibir mereka kering, Laskar Jihad datang dan langsung mengempur pasukan merah. “Terpaksalah kita ikut bertempur.”

Dany tak pernah berdiam di suatu tempat. Dia terus bergerak dari satu kampung ke kampung lain, dan di beberapa daerah dia mengganti nama. Selama di Maluku Utara dia menggunakan nama “Tohir,” dan ketika bergerak ke Maluku Selatan jadi “Harris.”

Ada banyak kampung yang disinggahinya. Mulai Ternate hingga Tidore. Apakah perpindahan ini bagian dari gerakannya untuk turut merebut Tobelo dan Galela yang telah dikuasai pasukan merah? Dany mengangkat bahu, dan lebih sering mengunci mulut rapat-rapat. Dia bahkan menegaskan kalau dirinya tak pernah menembak musuh. “Paling-paling ngajar ngaji anak-anak.”

Apapun, gerakan Dany dan satuannya memperlihatkan kecenderungan mendekati daerah-daerah yang sedang memanas. Mardika, Batu Merah, dan Tantui adalah medan-medan pertempuran dan merupakan daerah penghubung kota Ambon-Galela. Dan kebetulan atau bukan, saat itu, Juni 2000, pasukan putih dari berbagai komponen sedang memusatkan perhatiannya untuk merebut wilayah-wilayah itu.

Pertengahan Juni 2000, pasukan putih mulai mendarat di pinggiran kecamatan Galela, Maluku Utara, baik lewat darat maupun laut. “Pasukan jihad yang dipimpin Panglima Abu Bakar al Banjari berhasil menjebol pertahanan terakhir pasukan kafir Maluku Utara,” demikian bunyi siaran pers Forum Komunikasi Ahlussunnah Wal Jamaah. Dalam pertempuran tersebut pasukan putih merampas ratusan senjata organik.

Pada September 2000 sebagian besar Tobelo sudah berada dalam penguasaan pasukan putih, walau akhirnya Komando Daerah Militer Pattimura mengambil-alih keadaan. Dany sendiri balik badan dan menyusuri daerah semula untuk masuk Ambon pada Oktober 2000. “Waktu itu sudah diberlakukan Darurat Sipil, jadi tak bisa ke Galela dan Tobelo. Susah masuk ke sana.”

Kota Ambon dan Pulau Seram adalah daerah terakhir yang dijejak Dany.



FEBRUARI 2001, DANY MENUMPANG KAPAL laut menuju Surabaya. Teman-teman dari Malaysia tak lagi utuh, sebagaimana saat mereka berangkat dari Sabah dulu. Enam dari mereka; Yasin, Saad, Lukman, Ilham, Hidayat, dan Ali, langsung pulang ke Malaysia. Sedangkan Ismail tak jelas rimbanya. Kabarnya dia memilih tetap di Ambon sampai situasi memungkinkan untuk pulang. Dany praktis hanya ditemani dua sahabat Malaysia. Mereka Usman dan Rusli alias Ibrahim. Daniel Saputra dari Riau dan Gozi dari Medan melengkapi kelompok ini.

Dari Surabaya, mereka naik bus ke Jakarta. Kepulangan mereka rupanya sudah ditunggu Abbas. Dia menjemput di terminal Pulogadung ditemani Abdullah alias Asep, yang kerap dipanggil “Diki.” Abbas membawa mereka ke Jalan Raden Intan II, Buaran, Duren Sawit, Jakarta Timur. Di sana Dany dan kawan-kawannya diinapkan selama dua minggu.

Siapa Abbas? Nama aslinya Edi Setiono, tinggal di Jalan Kayu Manis Timur, Matraman, Jakarta. Abbas lahir di Jakarta pada 20 Mei 1961, dan lulus Sekolah Teknik Menengah Perkapalan, Jakarta, pada 1979. Awal 1980-an Abbas berangkat ke Jerman dengan modal nekat. Dia hendak kuliah di sebuah universitas teknik. Sebelum masuk kampus, Abbas mengikuti sebuah pre-college di Berlin. Di tempat kursus inilah, sejak tahun 1985, Abbas membaurkan diri ke dalam aktivisme Young Moslems Association in Europe (YMAE). Di situ dia sering berdiskusi dengan teman-temannya mengenai masalah Afghanistan yang sedang dikuasai Uni Soviet.

Hatinya tergerak untuk berjihad. Pada 1987 dia berangkat ke Afghanistan lewat Pakistan dan bergabung dengan para mujahidin di sana. “Saat di Pakistan sempat putus hubungan komunikasi dengan keluarga selama hampir tiga tahun,” kata Abbas.

Selama di Pakistan, Abbas tinggal di wilayah perbatasan, yang punya akses masuk ke Afghanistan secara leluasa. Letaknya tak jauh dari Peshawar. “Ini daerah tak bertuan. Siapa saja bisa tinggal di sana, bikin tenda, hidup di gua-gua dan bukit-bukit padas,” ungkap Abbas. “Banyak sekali orang di sana, tapi kita tak saling kenal. Yang datang bukan hanya dari Indonesia. Dari banyak negara.” Abbas sendiri datang ke sana membawa bendera YMAE, dan langsung menuju garis depan. “Paling kalau istirahat ada di front belakang, nyiapin logistik, pengobatan.”

Tahun 1990 Abbas kembali ke Indonesia dan menumpahkan kegiatan hidupnya untuk berdagang. Di akhir dasawarsa 1990-an Abbas kembali tergerak untuk ambil bagian dalam aktivisme membela muslim di Ambon. Paruh akhir 2000 dia mulai menginjakkan kakinya Ambon dan tinggal di Galela selama tiga bulan hingga awal 2001. “Waktu itu yang saya ingat sedang Idul Adha pokoknya. Ke Ambon cuma mampir saja selama dua jam, saat kapal yang mau ke Surabaya merapat.”

Apakah keberangkatan Abbas ke Maluku juga bertujuan untuk menghubungi Dany agar segera ke Jakarta? Tak ada jawaban dari Dany, juga Abbas. Namun, rencana pemboman terhadap peribadatan kristiani di Jakarta yang melibatkan nama mereka diketahui telah dirancang jauh hari, paling tidak sebelum Abbas berangkat ke Ambon yakni sekitar Oktober 2000 atau November 2000. Aksi itu dibahas dalam suatu pertemuan di Jalan Anggrek Raya, Perumahan Klender, Jakarta Timur. Selain Abbas, hadir pula Hambali, Imam Samudra, Abdullah, Musa, Hakim, Abdul Jabar, dan Jabir alias Enjang Bustaman.

Awalnya mereka hanya membicarakan masalah-masalah dalam agama Islam, dan memuncak pada rencana aksi peledakan bom dengan sasaran sejumlah gereja di berbagai wilayah di Indonesia. Puncaknya, Imam Samudra ditunjuk untuk menyediakan material bom. Abbas kebagian peran sebagai koordinator aksi di Jakarta, dan untuk Jawa Barat jatuh ke pundak Jabir. Nama yang disebut terakhir tewas dalam ledakan bom prematur di Jalan Terusan Jakarta, Antapani, Bandung, pada 24 Desember 2000.

Pertemuan dengan Hambali bukan sekali-dua. Di tahun 2000 Hambali sering berada di masjid Al-Fataah, Jalan Menteng Raya. Masjid ini sering digunakan buat pengajian bertemakan jihad, masalah Palestina, kasus Ambon, dan kehidupan kaum muslim yang tertindas di berbagai negara. Di sini pula para alumni Afghanistan biasa berkumpul. “Ya ngobrol-ngobrol biasa saja. Jabar kan juga tinggal di situ,” kata Abbas mengacu Abdul Jabar.

Dalam pertemuan, lanjut Abbas, Hambali biasanya hanya bicara seperlunya. “Lagi pula dia kan lebih suka bicara dengan orang-orang yang 'kelasnya' sudah tinggi. Siapa sih saya kok bicara dengan dia.”

Hambali dikenal Abbas sejak tahun 1999 lewat Abdul Jabar, kakak kandung Agung alias Faisal alias Solahudin alias Dedi. Jabar sendiri terkait dengan pemboman kantor kedutaan besar Filipina di Jakarta pada 2000 dan serial bom Natal 2000. Nama Abdul Jabar juga muncul dalam kasus bom Bali pada 2002. Abbas berteman dengan Jabar dan keluarganya sejak tahun 1993. “Kalau Hambali dekat dengan kakaknya Abdul Jabar … Fanani,” kata Abbas.

Fanani atau Farihin Ibnu Ahmad adalah tersangka kasus bom di Poso dan Palu pada 1995. Setelah dilepas, dia kembali ditangkap polisi Sulawesi Selatan pada 2002 karena kedapatan membawa ribuan butir peluru di pelabuhan Panto Loa, Palu, Sulawesi Selatan. Dia anak Ahmad Kandai, aktivis Negara Islam Indonesia (NII) di masa lalu. Pada 30 November 1957, Kandai sempat melakukan percobaan pembunuhan terhadap Presiden Soekarno dengan lemparan granat yang dikenal sebagai “Peristiwa Cikini.”

“Hambali pernah tinggal di Menteng juga?”

“Dia kan rumahnya di Cianjur. Ya cuma main saja, ketemu teman-teman.”

“Kalau Imam Samudra?”

Abbas mengiyai.

Imam Samudra nama lain dari Abdul Aziz. Dia lahir di Lopang Gede, Serang, Banten, tahun 1970. Selepas pertemuan dengan Enjang Bustaman pada 1991, Imam berangkat ke Karachi melalui Malaysia, dengan tujuan muaskar mujahidin Afghanistan di kawasan Khost. Tahun 1993 Imam pulang dari Afghanistan dan tinggal di Malaysia sampai 1998. Setahun kemudian dia balik ke Indonesia dan terlibat sejumlah pertemuan di berbagai tempat di Jakarta bersama Enjang Bustaman, Hambali, dan lainnya. Seperti juga Hambali, Imam tak ubahnya sosok hantu dengan banyak nama alias: Kudama, Abdurrahman, Heri, Abu Fath, Abu Amar, dan Faiz Junshar.

Polisi menganggap Imam Samudra bertanggung jawab atas serangkaian serangan bom dalam kurun waktu 2000-2002 di sejumlah kota, mulai Batam, Medan, Jakarta, hingga Bom Bali yang merenggut 202 korban jiwa dan 325 orang terluka pada 12 Oktober 2002. Dia ditangkap pada 21 November 2002 di dermaga pelabuhan Merak dan dijatuhi hukuman mati oleh Pengadilan Negeri Bali pada 10 September 2003.



SEBUAH RUMAH BERLANTAI DUA terletak di Jalan Malaka Raya Blok II, Perumahan Klender, Jakarta Timur. Temboknya berwarna putih kusam, seperti belum pernah ganti cat dalam waktu yang lama. Pagar besi hitam yang jadi pembatas dengan jalan, selalu berderit tiap kali digeser. Pekarangan seluas kurang lebih 5 x 6 meter persegi yang beralaskan paving blok merah hati dibiarkan apa adanya. Tempat parkir tanpa atap terletak di sayap kanan, dan hanya cukup untuk satu kendaraan roda empat berukuran besar.

Saban pagi sehabis adzan subuh, tetangga terdekat sering mendengar lagu-lagu islami macam Nasyid dan Kasidahan. Di sela-selanya, tak jarang terdengar tangis anak-anak dan percakapan antarmereka yang tak bisa didengar dengan jelas. Penghuni kadang-kadang keluar dengan tutup kepala ala Raihan, kelompok vokal dari Malaysia. Mereka jarang bergaul, lebih-lebih bertetangga dan bertegur sapa. Sekalinya berpapasan dengan orang di sana, mereka cuma mengangguk dan senyum.

Wisnu Subarkat, seorang pensiunan pegawai kejaksaan, tetangga sebelah kanan rumah tersebut, sempat mencurigai tindak-tindak penghuni yang enggan bergaul itu. Apalagi setelah Subarkat tahu kalau kartu penduduk yang mereka miliki semuanya lokalan. Kartu ini biasanya diberikan kepada pendatang dari luar Jakarta. Subarkat pun curiga pada pekerjaan mereka yang tak jelas. Dia sempat mendengar kalau mereka hidup dari berdagang, namun Subarkat tak pernah tahu apa yang mereka jual. “Mana barang dagangannya?” sergah Subarkat ketika Subagio, ketua rukun tetangga di sana, mengomentari kecurigaan Subarkat.

Subagio mengungkapkan, rumah tersebut berada dalam penguasaan Nur Aini Nasution setelah suaminya, Yusuf Nasution, meninggal. Pada Maret 2001, Nur Aini mengontrakkannya kepada Abdullah yang mengenalkan diri dengan nama “Asep.” Abdullah menghuninya dengan istri dan dua anaknya yang masih kecil. Seorang berusia tiga tahun, seorang lagi masih bayi.

Beberapa hari kemudian penghuni bertambah dua orang lagi. Keduanya sudah berusia dewasa. Siapa mereka? Tak lain dari Dany dan Rusli yang baru saja diboyong Abbas dari daerah Buaran, Jakarta Timur. Teman seperjalanan mereka dari Ambon, Daniel Saputra, Gozi, dan Usman, pulang ke keluarga masing-masing.

Ada yang menarik bagi Subagio. Sekitar dua bulan setelah Dany tinggal di sana, Abdullah memboyong istri dan anak-anaknya ke rumah kontrakan baru, yang berjarak beberapa ratus meter dari rumah milik Nur Aini itu. Letaknya hampir berseberangan. Kepindahan Abdullah disusul masuknya sesosok wajah baru. Subagio merasa si pemilik wajah tersebut tak lain dari Abdul Jabar bila dilihat dari fisiknya yang bermata belo, pipi lebar, dan rambut lurus. Subagio mengetahui Abdul Jabar dari koran-koran yang memberitakan penangkapannya pada Januari 2003.

Subagio tak tahu siapa saja yang bertandang ke rumah itu. Yang dapat dipastikan, hampir setiap waktu rumah tersebut selalu didatangi tamu. Wisnu Subarkat,mengingat salah seorang di antaranya Imam Samudra. Dia disapa teman-temannya “Ziz,” kependekkan dari Abdul Aziz, nama lahir Imam Samudra. Subarkat tahu paras Imam Samudra dari televisi saat tertangkap. “Saya terhenyak saat tahu itu,” kata Subarkat.

Masih segar dalam ingatannya, Imam Samudra pernah memberi bungkusan yang berisi korma. Di lain waktu, dia pernah memberi spagheti dan makanan lain. Tiap memberi, Imam Samudra hanya menjulurkan tangannya lewat pagar pembatas yang tingginya 110 sampai 120 centimeter. Dia, kata Subarkat, tak banyak bicara. Saat memberi korma, misalnya, sambil tersenyum Imam Samudra hanya berujar, “barang dagangan.” Seingat Subarkat, Imam Samudra sering terlihat berada di sana sampai Juli 2001. Subarkat bahkan sempat mengira orang itu penghuni tetap.

Abbas tak menyangkal kalau Imam Samudra kerap bertandang. Di sana mereka sering berdiskusi soal-soal agama, termasuk nasib kaum muslim di Ambon yang di mata mereka sedang teraniaya dan membutuhkan pertolongan segera karena ditekan orang kristiani. Desakan untuk segera melakukan aksi pemboman di Jakarta pun datang dari Imam Samudra. Abbas ingat, saat sedang berkendaraan dari Klender menuju Blok M –beberapa minggu sebelum pemboman Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) dan Santa Anna– Imam Samudra menggerutu, “Bagaimana, umat Islam di Ambon dibantai terus?”

“Bagaimana ya, kita enggak punya apa-apa.”

“Cobalah cari target-targetnya. Kalau barang bisa didapatkan.”

Empat hari sesudah perbincangan itu, Imam Samudra menelepon Abbas. “Bagaimana, sudah dapat belum targetnya?”

“Belum ada yang pas, Pak. Bagaimana nih?”

“Usahakanlah. Barangnya sudah ada.”

“Okelah, saya usahakan.”

Abbas menuturkan, sejak mendapat telepon itu, dirinya bersama Dany dan kawan-kawan berkeliling Jakarta. Dan ketika Imam Samudra kembali menelepon, Abbas tanpa ragu menjawab bahwa dirinya sudah mendapat titik-titik lokasi untuk diledakkan. “Silakan pilih yang mana?” kata Abbas seusai menggelar rincian alternatif target.

“Oke, nanti saya datang ke sana,” tukas Imam Samudra.

Beberapa hari kemudian Imam Samudra turun dari bajaj di depan rumah kontrakan itu. Dia membawa tas plastik berisi material peledak dengan empat detonator berikut empat timer (pengatur waktu). Bawaan Imam ini disimpan selama beberapa hari, dan baru pada 21 Juli 2001 Abbas memilahnya menjadi empat bagian yang sama. Dia mempersiapkan kardus, kantong plastik, dan lakban untuk keperluan perakitan.

Esoknya, sehabis salat subuh, Imam memimpin perakitan dan menyelesaikan tiga paket. Satu paket yang belum dirakit dipersiapkan untuk sasaran Atrium Plaza, Senen. Sekitar pukul 06.00, Abbas sudah duduk di balik kemudi Daihatsu Zebra. Dia ditemani Agung dan Dany. Di tangan mereka terdapat dua paket bom rakitan. Bom siap ledak lain dibawa Abdullah dan Rusli yang membelah pagi dengan sepeda motor RX-King. Tujuan mereka dua titik lokasi: Abdullah dan Rusli akan beroperasi di Gereja Santa Anna, sementara Dany dan Agung di Gereja HKBP Jatiwaringin.

Gereja Santa Anna terletak di Duren Sawit, Jakarta Timur, dan masuk dalam kawasan kompleks militer Angkatan Laut. Bangunan gereja berdiri di atas lahan seluas sekitar 12 ribu meter persegi, berdampingan dengan Gedung Pertemuan Yos Sudarso, taman kanak-kanak, sekolah dasar dan menengah, serta rumah pengelola gereja dan parokial. Sejumlah pohon rindang yang mengelilinginya membuat tempat itu terkesan sejuk.

Di dalam gereja terdapat panggung misa selebar kira-kira lima meter persegi, berdepanan dengan deretan bangku kayu yang memanjang dan membentuk 30 baris. Ada tiga sekat yang memisahkan masing-masing bangku untuk berjalan melalui pintu depan dan samping kanan gereja. Abdullah dan Rusli masuk melalui pintu samping sebelum jemaah berdatangan. Mereka lantas menaruh paket bom yang sudah disetel timer-nya di bangku kelima dari belakang.

Bom meledak sekitar pukul 07.05, beberapa menit setelah Romo Suryatma naik mimbar. Ledakan ini memporak-porandakan seluruh jendela kaca, menjebol langit-langit, dan meninggalkan lobang sampai radius sekitar 40 centimeter dari episentrum, dengan kedalaman sekitar 30 centimeter. Sedikitnya 72 orang terluka, berat dan ringan.

Di Gereja HKBP Jatiwaringin, bom meledak selang lima menit kemudian. Gereja ini terletak di Jalan Kartika Eka Paksi, Kalimalang, Jakarta Timur, dan menjorok ke dalam dari kawasan perumahan militer Angkatan Darat. Ledakan tak menimbulkan banyak korban cidera, sebagaimana yang terjadi di Santa Anna. Ini lantaran pusat ledakan berada di luar bangunan. Dany dan Agung memang kesulitan untuk masuk ke dalam gereja karena masih terkunci. Hari Minggu itu, Wahyu, penjaga gereja, tak biasanya telat bangun. Bahkan pendeta M.G.H. Tampubolon yang menggantikan Pendeta Daniel Harahap datang terlambat 20 menit.

Melihat gereja masih terkunci, Dany berinisiatif menyimpan bom di sebuah warung yang berjarak sekitar 100 meter dari gereja. Bom ini tak kunjung meledak dan berhasil diamankan polisi. Sumber ledakan datang dari paket bom yang disimpan di kolong sebuah mikrolet M-18 bernomor polisi B 2248 JJ, milik keluarga Silitonga, yang diparkir di persimpangan Jalan Artileri-Jalan Kartika Paksi.

Ledakan itu menerbangkan mikrolet, selain menghancurkan dua mobil jemaat lain yang parkir di kiri-kanannya. Getaran bom ikut merontokkan kaca-kaca di menara gereja dan sejumlah lampu kristal. Bumper mikrolet terbang setinggi kurang lebih 15 meter dan hinggap di atap menara. Hendrik Silalahi, yang sedang berada di pusat ledakan, berjalan terhuyung-huyung bermandikan darah dan segera dilarikan ke rumah sakit bersama korban lain, Aldo dan Yusuf.
Sehari setelah ledakan di kedua gereja tersebut, Wisnu Subarkat mendapat kiriman dari tetangga sebelah berupa bungkusan daging akikah; daging tanda syukur atas sebuah keberhasilan.




ATRIUM PLAZA DITETAPKAN SEBAGAI sasaran berikutnya. Bangunan ini terletak di pusat keramaian Senen, salah satu kawasan tersibuk di Jakarta Pusat. Sebelum jatuh ke tangan Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN), Segitiga Atrium, perusahaan induk yang mengelola sentra bisnis tersebut, berada dalam kepemilikan Kaharudin Ongko.

Sempat beredar selentingan, pemboman atas Atrium Plaza dilatari persaingan bisnis dengan motif untuk memukul konglomerat tua itu. Motif ini kelak segera menguap begitu Dany dan Abbas ditetapkan sebagai tersangka dan ternyata tak punya korelasi apapun dengan kepentingan bisnis. Lebih-lebih setelah mereka mengurai targetnya, yang memperlihatkan bahwa titik pemboman direncanakan berada di Gedung Serbaguna Rajawali yang terdapat di lantai 16 Graha Atrium, kompleks perkantoran yang mengelola pusat perbelanjaan itu. Gedung tersebut diketahui mereka sering digunakan jemaat kristiani untuk melangsungkan kebaktian, antara pukul 17.00 sampai 21.00. Data administrasi memang menunjukkan, sejak Juli 2001 gedung tersebut telah dikontrak oleh Bethesda Ministry melalui nama Henry Tumewu.

Motif mereka –yang diakui secara eksplisit di depan polisi dan tak pernah dibantah sampai jatuh vonis pengadilan– adalah balas dendam atas perlakuan kaum kristiani yang di mata mereka telah menindas komunitas muslim di Maluku. Motif ini sekaligus mengubur keterangan Omar al Faruq, orang Kuwait yang ditangkap di Bogor dengan tuduhan jadi wakil al Qaeda di Asia Tenggara, yang dalam interogasi mengatakan bahwa pemboman itu untuk melenyapkan Megawati Soekarnoputri, wakil presiden Indonesia. Saat itu, para pemimpin Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan ditenggarai sedang melangsungkan rapat besar di daerah Pecenongan, tak jauh dari Atrium Plaza. Rapat ini dipimpin Megawati.

“Ditaruh dekat kaki saya saja cuma begini,” kata Dany sambil mengangkat kakinya yang buntung. “Bagaimana mungkin bisa membunuh Megawati ... dilempar ke mobilnya?” Dany bertanya retoris.

Dalam pemeriksaan polisi terungkap, rencana peledakan mulanya ditetapkan pada 25 Juli 2001. Rencana ini batal lantaran Abbas tiba-tiba harus berangkat ke Tasikmalaya untuk menjenguk mertuanya yang sedang sakit. Abdullah yang sedianya akan menggantikan peran Abbas ikut-ikutan menghilang. Mereka akhirnya mengganti rencana, dengan tanggal 1 Agustus 2001 sebagai tenggat eksekusi.

Hari-H tiba. Pagi itu, sekitar pukul 10.00, Abbas datang ke Klender. Dia minta Abdullah menemani untuk suatu urusan di Jalan Warung Buncit dan Lenteng Agung. Abdullah spontan membalas bahwa Dany dan kawan-kawan memerlukan kendaraan untuk survei. “Pak Abbas tolong anterin dong, anak-anak pengin main ke Atrium tuh,” pinta Abdullah.

Abbas menyanggupi. Kilat, mereka bersiap-siap. Dany menyambar sepucuk pistol FN-45 dari tujuh pistol di sana. “Saya bawa satu,” Dany mengacungkan senjata. Abbas menganggukkan kepala, “Bawa saja.”

Pukul 10.30 mereka berangkat menuju Atrium. Di sana mereka memindai situasi selama beberapa menit. Dari survei, tercetus rencana baru untuk menaruh bom dalam kendaraan carteran yang akan membawa jemaat pulang kebaktian.

Kini mereka meluncur menuju rumah Abbas di Matraman, tempat paket bom yang belum dirakit disimpan. Dalam perjalanan pulang mereka membeli Dunkin's Donuts di Jalan Sabang, dan mampir ke masjid Cut Meuthia di sekitar Taman Suropati, Jakarta Pusat, untuk salat dzuhur. “Lama juga nih kita enggak jalan-jalan,” kata Abdullah, begitu mereka sampai di Matraman. Jarum jam menunjukkan sekitar pukul 16.00.

Selang beberapa waktu, Abbas pergi ke belakang rumah menuju tempat pompa air. Dia mengambil kardus berisi bungkusan plastik paket bom dan menyerahkannya kepada Dany. Bersama Abdullah, Dany melakukan perakitan. Bubuk hitam dari bungkusan plastik ditaruhnya di dalam kardus Dunkin's Donuts dan ditaburi proyektil yang terbuat dari gotri, serbuk besi, dan paku. Pada taburan tersebut detonator diletakkan dan kabelnya ditarik keluar untuk disambungkan dengan kabel timer. Posisi timer berada di luar kardus. Terakhir, Dany mengeset timer dengan perkiraan waktu ledak pukul 21.10 saat bom sudah berada dalam bus yang mulai bergerak.

Teorinya, ledakan pada bus yang sedang bergerak bisa menimbulkan efek gelembung. Kemungkinan terbakar juga besar karena adanya solar. Korban, kata Dany, bisa lebih banyak lagi jika mereka duduk berdekatan.

Yang jadi pertanyaan, kenapa bom seberat sekitar satu sampai dua kilogram itu meledak sebelum waktunya? Apakah benar Dany dijahili dengan jalan peledakan jarak jauh? Dany tersenyum. Dia tak melihat kemungkinan tersebut. Bom yang dirakit bukanlah kategori bom remote control. “Letupan itu kan persoalan timer,” kata Dany.

Dany berkilah bahwa bom yang dibawanya bukanlah bom yang sempurna seperti produk pabrikan. Belakangan Abbas menjelaskan bahwa Dany membuat dua kekeliruan.

Pertama, kekeliruan teknis. Dany memang sudah benar dalam prosedur dengan menumpukkan dua timer yang salah satunya untuk firing device. Dia mengesetnya sejak pukul 19.10 untuk dua jam ke depan, sehingga bom diperkirakan meledak pada pukul 21.10. Kesalahan Dany terletak pada pilihan timer yang sudah kadaluarsa. Timer tersebut, kata Abbas, berdering setiap satu jam. Bisa dipahami kalau bom akhirnya meledak satu jam lebih awal.

Kedua, Dany melanggar rencana. “Dalam kerja-kerja seperti ini (jihad) kan biasanya ada tiga hal. Satu penyerahan diri, self sacrificing, dua teknis, dan tiga patuh pada order. Kalau yang pertama jelas, yang kedua harus paham teknisnya, dan ketiga harus taat pada rencana yang telah dibuat,” kata Abbas hati-hati. “Untuk kasus Dany misalnya, coba dia taruh langsung tentu tak akan seperti ini. Paling tidak, meskipun itu meledak, tak terjadi apa-apa padanya. Meski dia sudah siap untuk itu,” ujar Abbas.

Abbas mengatakan, untuk menghindari ledakan dini, dirinya cepat-cepat menyusul Dany untuk memberi isyarat agar segera menaruh bom.

“Saya tak tahu. Isyarat dari siapa?” jawab Dany.

“Pak Abbas.”

“Tak ada. Tak ada itu isyarat. Bom itu memang meletup duluan.” Dany kemudian memelankan suaranya, “misalnya paket itu saya bawa jalan ke tempat parkir bus sekalipun, pasti juga akan meledak di jalan.” Jarak pintu masuk Atrium sayap timur dengan tempat parkir bus di depan Graha Atrium sekitar 5-10 menit jalan kaki.



HANYA SEHARI DANY BERADA di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat. Sehabis badannya dibersihkan dari paku-paku dan kaki kanannya diamputasi, Dany dipindahkan ke Rumah Sakit Kepolisian Indonesia di Kramat Jati, Jakarta Timur, mulai 2 Agustus 2001 sore. Di tempat baru Dany diperiksa lebih intensif. Penjagaan untuknya diperketat.

Dany berusaha menyembunyikan identitasnya. Dia selalu mengelak saat ditanyai. Di saat lain dia mencoba membangun alibi sebisa mungkin. Polisi menilai Dany sebagai sasaran sulit. Tak kehabisan akal, polisi melakukan penyamaran. Komisaris Besar Adang Rochjana berpura-pura jadi dokter.

Dengan nada simpatik, Rochjana menanyai Dany perihal teman. Tak dinyana, Dany menggumamkan nama “Fadil.” Dari informasi secuil ini, Rochjana memerintahkan anak buahnya untuk memburu Fadil.

Fadil Abdurrahman, yang disebut-sebut Dany sebagai teman, tinggal di Jalan Harapan Baru Blok C-1, Bekasi. Dia ditemukan polisi saat berada di dalam kantor Yayasan Al-Rosikun bersama teman-temannya: Solihin, Sutisna, dan Husni Rizal. Dari situ polisi bergerak ke rumah Fadil dan mendapatkan sejumlah dokumen. Mulai catatan sistem pembikinan bom, dokumen tentang berbagai jenis senjata api, serta prosedur dan tata cara pelatihan militer.

Fadil membuka kedok Dany. Orang itu menerangkan bahwa dirinya pernah dibawa Dany ke sebuah warung internet di sekitar Grand Mall, Bekasi, dan melihat-lihat situs web tentang sistem pembuatan bom. Sebelum mengunduh file tentang cara merakit bom untuk diterjemahkan, Fadil masih mengingat ucapan Dany, “Kita itu dibodohi sampai enggak bisa membuat bom, padahal itu gampang.”

Penelitian berlapis segera dilakukan. Di Atrium Plaza, tim kecil yang dipimpin langsung Carlo Brix Tewu, kala itu menjabat kepala Unit Antiteror dan Bom Direktorat Reserse Kepolisian Daerah Metro Jaya dengan pangkat ajun komisaris besar, kembali menyisir episentrum ledakan untuk mengumpulkan sejumlah barang bukti. Mereka antara lain menemukan residu black powder dan trinitrotoluene (TNT). Di laboratorium tim yang berada di bawah kendali Brigadir Jenderal M. Hamim Soeriaamidjaja, kepala Pusat Laboratorium Forensik Kepolisian Indonesia, memeriksa hasil swab (sapuan kapas).

Sadar tak lagi dapat menyembunyikan identitasnya, Dany menyerah. Dia mengungkapkan sejumlah pengakuan, termasuk tentang teman-temannya yang terkait kasus pemboman di Atrium. Pada 9 Agustus 2001, Dany ditetapkan sebagai tersangka.

Esoknya, giliran Sigit Listyo Prabowo beraksi. Prabowo, berpangkat ajun komisaris polisi, saat itu menjabat kepala Polisi Sektor Duren Sawit. Bersama anak buahnya, dia mengaduk-aduk rumah kontrakan Dany di Klender. Penggeledahan ini diikuti tim Gegana dari Kepolisian Daerah Metro Jaya sehari sesudahnya.

Dari rumah Dany, polisi mendapatkan sejumlah barang bukti, mulai gambar sketsa perakitan bom, digital multimeter, travelmate suit alarm clock, baterai Hi-Watt, serta baterai Quan-Ba. Barang bukti yang disebut terakhir, menurut Soeriaamidjaja, identik dengan material yang ditemukan dalam kasus peledakan gereja HKBP dan Santa Anna pada 24 Desember 2000. Polisi pun mengarahkan pemeriksaan untuk melihat keterkaitan Dany dalam kasus peledakan dua gereja tersebut.

Dany tak punya pilihan lain, selain mengakui semua perbuatannya, termasuk menginformasikan di mana kira-kira temannya berada. Dari mulut Dany pula untuk kali pertama nama Imam Samudra meluncur dan mulai menjadi sosok hantu untuk beberapa waktu lamanya.

Mengikuti “nyanyian” Dany, polisi bergerak ke Pandeglang yang diduga jadi tempat persembunyian teman-teman Dany. Sedikitnya 13 orang, yang menurut polisi sedang berlatih kemiliteran, dibekuk. Abbas –yang sehari sesudah terjadi ledakan di Atrium Plaza berangkat ke sana atas perintah Imam Samudra untuk menyerahkan beberapa pucuk pistol kepada seseorang bernama Jaja– tak ditemukan.

Abbas baru berhasil ditangkap pada 11 September 2001 di rumah mertuanya, Kampung Babakan Pareundeung, Kawalu, Tasikmalaya. Saat itu, sekitar pukul 13.00, dia sedang asyik menonton televisi bersama anak-anaknya. Dari tangan Abbas, setelah rumahnya di Matraman digeledah, polisi mendapatkan sejumlah barang bukti, mulai komputer, satu set peralatan solder, sampai sepucuk senjata api jenis S & W Magnum dengan 12 butir peluru.

Setelah penangkapan itu hubungan Abbas dan Dany merenggang. Mulai pemeriksaan hingga pengadilan, keduanya jarang bertegur sapa. Abbas sempat menumpahkan kekesalannya dengan berkomentar bahwa Dany mestinya mau menanggung risiko sendiri jika benar-benar mau berjihad. “Misalnya Dany kemarin tidak ngomong kan tidak akan terbongkar semua,” kata Abbas. Beberapa detik kemudian, Abbas buru-buru meralat bahwa ucapan barusan bukan dimaksudkan untuk memojokkan Dany, apalagi menuduhnya telah menjebloskan Abbas ke dalam penjara.

Persoalan yang dihadapi Dany kini bukan sekadar hukuman yang bakal didapat dari tindakannya, tapi juga “serangan” yang bakal dihadapinya di pengadilan. Abbas, ditilik dari sikapnya selama ini, secara teoritis tak mungkin membantu Dany untuk meringankan hukuman. Dan benar, di tingkat pemeriksaan polisi saja pengakuan Abbas sering menyanggah apa yang diungkapkan Dany. Abbas, misalnya, tak mengakui kalau dia koordinator peledakan itu. Dia bahkan tak mengakui kalau dirinya terlibat rapat-rapat perencanaan.

Abbas berdalih, jika kemudian berita acara pemeriksaan itu diteken, ini semata demi menghindari perlakuan kasar polisi atas dirinya. Tak hanya ancaman fisik, Abbas mengatakan bahwa dirinya tak jarang mengalami tekanan psikologis, seperti ditodong senjata. “Jangan bohong kamu, kalau bohong saya tembak,” kata Abbas menirukan ucapan polisi pemeriksa.

Menghadapi gelagat tak beres berupa kemungkinan beratnya hukuman, Dany berkonsultasi dengan pengacaranya, Duni Nirbayati.

“Apa yang bisa meringankan hukuman saya?” kata Dany.

“Satu-satunya cara untuk ringan adalah memberi keterangan dengan baik, kooperatif dengan petugas,” kata Nirbayati.

“Jaminannya apa?” kejar Dany, yang dalam pandangan Nirbayati, Dany kuatir Tewu bersikap bias mengingat dia beragama kristen.

“Percayalah, untuk urusan pekerjaan, Bang Carlo orang yang bisa profesional memisahkan kepentingannya. Akhirnya saya buat gentlement's agreement dengan Bang Carlo lewat sebuah surat keterangan betapa koperatifnya Dany,” tutur Nirbayati.

Carlo B. Tewu tak memungkiri keluwesan Dany. “Dia,” kata Tewu merujuk Dany, “banyak membantu dalam pemeriksaan. Dari dialah kami mendapat banyak temuan baru tentang jaringan mereka. Ada nama Abbas, Abdul Jabar, Asep, Imam Samudra, dan Hambali.”

Februari 2002, perkara Dany disidangkan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Sejumlah saksi hadir di situ, mulai Eva Marbun, koordinator kegiatan Graha Atrium; Anita Abdul Aziz, korban ledakan bom; sampai Wisma Subarkat, tetangga Dany. Di hampir semua persidangan yang dijalani, Dany selalu terlihat tenang. Sorot matanya tetap tajam, kontras dengan wajahnya yang cekung. Dua bulan kemudian sikapnya yang tenang terkelupas. Dia mencoba berdiri dengan tubuh gemetar. Parasnya pucat, kelopak mata memerah. Dany baru saja divonis mati. Dia kelihatan sedih, meski tak ada air mata menetes.

“Ya enggak papa, hidup dan mati kan di tangan Tuhan,” kata Abbas mengomentari vonis itu.

“Saya tak habis mengerti bagaimana bisa divonis mati,” ujar Duni Nirbayati.

“Banding,” ucap Dany, pelan.

Dalam peradilan tingkat banding, hukuman buat Dany berkurang. November 2002 Dany diputus 20 tahun penjara. Abbas pun terhindar dari hukuman mati seperti yang diterimanya seminggu setelah vonis buat Dany jatuh. Abbas juga mendapat 20 tahun penjara.




HALAMAN ITU MEMANJANG, SEKITAR 6 x 20 meter. Untuk masuk ke sana tak sukar, asal bersedia mengikuti “aturan main” termasuk menyediakan uang recehan. Di pos pendaftaran orang cukup menyelipkan Rp 1.000-Rp 2.000.

Penjara Salemba, Jakarta, bukanlah bui yang harus ditakuti buat mereka yang tahu situasi dan mau memanfaatkan peluang. Seorang tahanan bahkan bisa membawa peralatan tidur, lengkap dengan televisi. Tempat itu pun acap jadi bahan pemberitaan menyangkut peredaran obat bius atau perilaku seks menyimpang. “Di sini, apa saja yang bisa dimakan, dimakanlah. Siapa yang bisa dimakan, dimakanlah,” kata Dany. “Hati-hati di sini kalau dimintai duit. Mereka menganggap orang besuk itu datang bawa banyak uang.”

Untuk menengok orang sekaliber Dany, sekali datang orang harus menyediakan minimal Rp 50.000. Bagian terbesar diberikan pada tahanan, sekurang-kurangnya Rp 25.000. Jika tidak, dia akan bangkrut, atau yang lebih merepotkan lagi tak bisa mendapat kartu pas kelak. Uang ini digunakan untuk setoran. Petugas pemungut biasanya keliling sel sehabis adzan maghrib dengan bukti salinan kartu kunjungan di tangan.

Dany terbilang cepat paham liku-liku penjara. Ada banyak orang mengajarinya ini-itu sejak pertama datang.

Kehadiran Dany di penjara Salemba telah didengar penghuni lain beberapa hari sebelumnya. Maka, begitu dia tiba, sambutan mengalir ke selnya. Kejahatan yang dilakukannya memang terbilang langka, dan sebutan “teroris” yang melekat padanya jadi pangkal keingintahuan orang untuk mengenal dia. Vonis hukuman mati yang sempat diterima Dany sedikit banyak telah membawa dia ke status tahanan yang lebih “tinggi” ketimbang lainnya. Inilah barangkali sebabnya, ketika kali pertama menghuni sel, Dany sempat didatangi dan disalami Maulawarman dan Noval Hadad, keduanya tahanan kelas berat dan disegani penghuni. Mereka ditahan sejak medio 2001 dalam kasus pembunuhan Hakim Agung Syafiuddin Kartasasmita.

Dalam wawancara-wawancara awal, Dany sering ditemani semacam pengawal yang bertubuh besar. Dia biasanya tampil rileks dan sesekali menyunggingkan senyum. Kadang-kadang derai tawanya juga keluar.

Dari perjumpaan selama kurun Nopember 2002 sampai Maret 2003, kesan yang didapat darinya adalah otaknya yang encer. Dia selalu dalam keadaan siap untuk menyelidiki kata per kata dari lawan bicaranya. Satu hal lagi, dia tak mudah memercayai orang. Dany bukan subjek yang gampang ditelisik, memang. Makin susah kalau suasana hatinya sedang galau. Pada Maret 2003, umpamanya, dia datang dengan muka masam.

“Biasalah di dalam kan banyak masalah,” kata Dany tanpa mau memandang lawan bicara, “sedikit saja perbuatan bisa jadi masalah. Tiap hari ada saja masalah. Mereka kan biasa hidup tekan-menekan, saling menindas. Agak-agaknya tadi juga dia bertujuan itu.”

Tak jelas apakah dia sedang kesal pada seorang tahanan atau baru saja menerima kabar buruk. Beberapa hari sebelumnya, dalam suatu wawancara, Duni Nirbayati mengatakan bahwa kasasi Dany ditolak karena dua hal: kesalahan prosedural dan keterlambatan memasukkan permohonan. “Lagi pula dia takkan menang.”

“Jangan tanyakan lagi apa yang sudah saya beri, saya tak mau kasih. Capek!”

Beberapa saat kemudian, Dany bangkit dari duduknya. Tubuh setinggi kurang lebih 170 centimeter itu kelihatan makin kurus, letih, dengan pipi kian cekung hingga tampak menelan kelopak mata. Janggutnya yang kian panjang menari-nari mengikuti hembusan angin, tak peduli tuannya sedang gundah. Dalam diam, dia membetulkan letak kruk hingga pas di ketiak. Tertatih-tatih dia berjalan menuju blok selnya.

Dia tak benar-benar abai. November 2003 Dany masih mau keluar dari selnya. Kali ini dia tak lagi di penjara Salemba, tapi di penjara Cipinang, Jakarta Timur. Harga kartu pas di sini lebih mahal, bisa mencapai Rp 50.000 untuk pintu blok terpidana, dan sekitar Rp 5.000-10.000 untuk sipir di masing-masing pos jaga.

Dany datang ke ruang besuk dengan air muka berseri. Jalannya masih tetap tertatih-tatih, tapi kruk penyangga beban sudah tiada. Dia mulai menggunakan kaki palsu dari uang kiriman ibunya. “Rasanya masih suka ngilu, belum bisa dipakai nekuk pergelangan kaki. Kalau dipakai salat sih biasa. Rukuk bisa, sujud juga bisa.”

Baru sebulan dia belajar berjalan. Hampir tiap hari dia keluar blok untuk membiasakan diri berjalan kaki palsunya. Ke masjid, taman, kantin, kenalan-kenalan barunya, ke mana saja dia mau. Tapi tentu saja hanya sebatas di dalam penjara. Dia perlu waktu minimal 15 tahun lagi untuk bisa jalan-jalan di luar. [end]

Majalah Pantau, Reporter dari Lapangan, Februari 2004

Faisal Tehrani said...

salam,
berminat untuk mengenali saudara...

aslina bidadari said...

Salam, aqhil fithri...
rupanya kita ini bersaudara dari satu Jamaah yg telah kita tinggalkan di UiTM dulu. Kita saling mengenali rupanya, cumanya anta menggunakan nama samaran jadi ana tidak perasan.

Ana tahu ini adalah blog anta dari sahabat kita yg mengenali anta.
Masih ingat pada ana..
Apa pun teruskan usaha anta...

Aqil Fithri said...

salaam~

saudara faisal, nanti saya emelkan pada anda...

Aqil Fithri said...

salaam~

saudari aslina, ana masih perasan. memang, banyak yang telah kita belajar di UiTM dulu, termasuklah main sembunyi2 dengan HEP:-) dan, dari situ kita membina kematangan (kononnya).

terima kaseh byk2 kerana sudi selak di sini...

aslina bidadari said...

Salam,
Sama-sama dan marilah kita bersama meneruskan perjuangan dengan cara masing-masing. Semoga silaturrahim berkekalan dan diperbaiki.

Faisal Tehrani said...

salam,
emel saya tehranifaisal@yahoo.com
terima kasih